Iklan

Iklan

Ditreskrimum Polda Metro Ciduk 8 Pelaku Pemalsuan Sertifikat Tanah

BERITA PEMBARUAN
Kamis, 03 Desember 2020, 03 Desember WIB Last Updated 2020-12-03T14:52:11Z



JAKARTA-  Subdit 2 Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap 8 pelaku kasus penipuan dan pemalsuan akta otentik tindak pidana terhadap Sertifikat Hak Milik (SHM).


Dan dua pelaku HG dan HAG masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), terhadap korban seorang ibu berinisial CAS berusia 75 tahun di Jalan Pulo Asem Utara II, Kelurahan Jati, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.


Dikatakan Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat, para tersangka pada umumnya mencari korban yang sudah tua untuk menyerahkan sertifikat milik korban. Setelah sertifikat dikuasai tersangka, kemudian para tersangka bekerjasama melakukan transaksi jula beli tanpa sepengetahuan korban menggunakan dokumen palsu, setelah sertifikat dibalik nama kemudian diagunkan di Bank dengan nilai Rp 6 miliar.


“Korban didatangi pihak Bank UOB yang mengatakan SHM No.4633/Jati sudah beralih kepemilikannya menjadi atas nama HG dan sedang diagunkan di Bank UOB senilai Rp 6 miliar. Sedangkan faktanya korban tidak pernah mengalihkan kepemilikan terhadap SHM No.4633/Jati dan /atau menandatangani apapun terkait peralihan kepemilikan,” ungkap Tubagus Ade Hidayat di Polda Metro Jaya, Rabu (3/12/20).


Menurut Dirreskrimum, awalnya pada tahun 2009 SHM No. 4633 milik korban dipinjam oleh PA dan MSM untuk dijadikan agunan modal usaha di Bank Mandiri dan korban dijanjikan akan direnovasi rumahnya namun tidak terlaksana dan terjadi kredit macet senilai Rp 2 miliar. 


“Setelah terjadi kredit macet, pada tahun 2015 MSM bersama AYS, datang menawarkan korban penebusan SHM di Bank Mandiri dan menjanjikan akan memberikan uang sebesar Rp 100 juta dengan syarat sertifikat tersebut dapat dipinjam kembali selama 3 bulan,” terang Tubagus Ade.


Lanjut Tubagus Ade, korban memiliki tanah yang terletak di Jalan Pulo Asem Utara II No.1 Kelurahan Jati Kecamatan Pulogadung Jakarta Timur, dengan luas tanah 4.27 M2 sejak tahun 1964, dengan bukti kepemilikan berupa SHM No. 4633. 


Para pelaku berbagi peran ada SHS dan RIG sebagai Notaris & PPAT, S dan AA ngaku sebagai Notaris, sedangkan NS ngaku sebagai PPAT.


“Selanjutnya pelaku AYS napi yang tinggal di Lapas Cipinang membuat KTP palsu suami korban dan akta pernyataan persetujuan atas nama suami korban pada tahun 2015, yang mana faktanya suami korban telah meninggal dunia pada tahun 2004,” paparnya.


Ada MSM pada tahun 2015 ikut bersama AYS membujuk atau menawarkan penebusan SHM No. 4633 milik korban, sedangkan faktanya SHM tersebut telah ditebus pada tahun 2012.


Kemudian PA berperan mengenalkan korban kepada MSM, PA bersama MSM meminjam SHM No.4633 milik korban, untuk modal usahanya dengan menjanjikan korban akan merenovasi rumah, tetapi terjadi kredit macet dan rumah korban tidak direnovasi.


Sedangkan HG dan HGO yang masuk daftar pencarian orang menyiapkan dokumen palsu (identitas korban dan identitas suami korban) untuk peralihan SHM No. 4633 milik korban, untuk meyiapkan akta-akta terkait peralihan dan menandatangani semua akta-akta peralihan.


Para tersangka dikenakan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP Jo. Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP dan atau Pasal 3, 4 dan 5 UU RI No. 08 tahun 2010 tentang TPPU dengan ancaman 7 tahun. Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun. [ Okta ]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Ditreskrimum Polda Metro Ciduk 8 Pelaku Pemalsuan Sertifikat Tanah

Terkini

Topik Populer

Iklan