Iklan

Manfaat Limbah Pertanian Menjadi Inovasi yang Menghasilkan 'Duit'

BERITA PEMBARUAN
Minggu, 17 Januari 2021, 11:43 WIB Last Updated 2021-01-26T09:52:48Z


RANTAU- Kita harus terus dorong pertanian yang Maju, Mandiri, dan Modern. Modern berarti kita bicara SDM. Bagaimana mau cepat kalau masih pakai kendaraan yang lama. Bagaimana mau maju kalua ilmunya, tekhnologinya, mekanismenya masih seperti kemarin.


Hal itu disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Linpo (YSL) saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Selasa (12/01/21).


Lanjut Mentan, pertanian maju, mandiri, modern mensyaratkan adanya proses pembelajaran yang tidak pernah berhenti. Pembelajaran bisa melalui sekolah maupun pembelajaran melalui percontohan.


Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Republik Indonesia Dedi Nursyamsi saat  Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Penyelenggaraan Pelatihan Pertanian Tahun 2021 (Rabu, 13/01/21) Di Hotel Horisan Ciawi, Jawa Barat, meminta manfaatkan seluruh limbah hasil pertanian menjadi Inovasi menghasilkan “DUIT” dalam arahannya saat membuka Rakor. 


Yang menurutnya, tujuan akhir program utama Kementrian Pertanian adalah meningkatkan kesejahteraan petani,  


Sementara dalam sambutan saat membuka Rakor, Dedi mengatakan, tanaman padi, setelah digiling berasnya, limbahnya bisa menghasilkan dedak, menghasilkan sekam apabila dikelola dengan benar akan menghasilkan DUIT. 


"Begitu juga tanaman pertanian lainnya," ucap Dedi.


Caranya kata Dedi, tidak cukup hanya tahu ilmu pengetahuan, tidak cukup hanya tahu permasalahan, tetapi petani harus mampu mengeksekusi, ini tidak gampang.


"Hanya bisa dilakukan oleh petani yang mau bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas," tegas Dedi.


Terbukti ucapan Kepala BPPSDMP pada Inovasi yang dikembangkan oleh P4S Binaan BBPP Binuang dalam Inovasi pengolahan cocopeat (sabut kelapa) dan Sekam Bakar.


Diketahui, P4S PITU KAWERANG yang beralamat di Jalan Tanjung Batu Desa Nunukan Barat Kecamtan Nunukan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara pemilik Muhammad Sibwaihi Siji, S.Sos.  diawali dari Bantuan Sarana dan Prasarana bagi Pengelola P4S Tahun 2020 sebesar Rp. 10.000.000,00 untuk peningkatan sarlat kapasitas proses pembelajaran di P4S.


"Syarat yang diminta adalah alat pencacah cocopeat tanpa mesin, dana Rp. 10.000.000,00 tidak cukup untuk membeli mesin, saya punya mesin domping bekas di P4S bisa dimanfaatkan untuk menggerakan alat pencacah sabut kepala (cocopeat) itu," terang Siba saat menyerahkan proposal ke BBPP Binuang," tutur Sibwaihi.


Lanjut Siba, sapaan akrab Muhammad Sibwaihi Siji, Modal produksi Rp. 300.000,00 beli solar dan sabut kelapa jadi Rp. 1.500.000,- dan tetangga jadi senang selama ini sabut kelapa dibuang sekarang ada harga.


"Kisah arang sekam dengan proses tercepat 1,5 jam jadi inovasi andalan dalam proses pembelajaran di P4S Pitu Kawerang, biasa paling cepat 5-8 jam proses pengolahan arang sekam. Campur dengan cocopeat perbandingan 1:2 jadilah media tanam andalan,"  jelas Siba.


P4S Pitu Kawerang Nunukan semakin terdepan di Kalimantan Utara, produk cocopeat dan arang sekam tambah diburu penggemar tanaman hias dan tabulampot. 


"Terima kasih Ibu Yulia (Kepala BBPP Binuang) atas bantuan fasilitasnya," tandasnya.(Ron).




Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Manfaat Limbah Pertanian Menjadi Inovasi yang Menghasilkan 'Duit'

Terkini

Topik Populer

Iklan