Iklan

Iklan

Polisi Tangkap Pelaku Pemalsuan Hasil Tes Swab-PCR

BERITA PEMBARUAN
Kamis, 07 Januari 2021, 07 Januari WIB Last Updated 2021-01-07T16:50:32Z

JAKARTA- Tiga pria pelaku tindak pidana perubahan data dan atau manipulasi data hasil SWAB-PCR melalui media elektronik dan atau pemalsuan diciduk Subdit IV Tipes Siber Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, menjelaskan ketiga pelaku adalah MHA, 21 di Bandung; EAD, 22 di Bali; dan MAIS, 21 di Jakarta. Lokasi penangkapan ketiganya ternyata berjauhan.

"Telah diamankan tiga orang tersangka sebagai pemilik atau yang menguasai akun Instagram @hanzdays dan @erlanggs, serta orang yang pertama melakukan perubahan atau edit surat keterangan swab atau PCR Bumame Farmasi (BF) palsu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Kamis (7/1/21).

Dijelaskan Yusri, pengungkapan kasus ini berawal dari laporan korban, yakni PT BF. Perusahaan itu merasa dirugikan karena mencantumkan namanya pada surat hasil PCR test palsu tersebut.

Dikatakan, PT BF mengetahui pemalsuan surat hasil PCR test ini dari akun Instagram dokter Tirta. Surat palsu itu telah digunakan tersangka MAIS bersama dua rekannya saat berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten ke Denpasar, Bali pada 23 Desember 2020.

Lalu kata Yusri, para tersangka mengunggah iklan penjualan surat PCR melalui media sosial Instagram dan bahkan viral. Mereka menawarkan jasa pembuatan surat PCR dengan biaya Rp650 ribu per satu surat

"Modusnya, memalsukan surat PCR atas nama PT BF untuk keperluan berangkat naik pesawat sebagai syarat untuk ke Denpasar," ujar Yusri.

"MAIS bersama dua temannya lolos menggunakan surat palsu itu di terminal 2 Bandara Soetta," ungkap Yusri.

Disebutkan, motif pemalsuan hasil rapid test antigen itu karena pengurusannya minimal dua hari sebelum keberangkatan. Kemudian, harganya di bandara terbilang mahal mencapai Rp 900 ribu.

Ketiga tersangka dikenakan Pasal 32 juncto Pasal 48 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman paling lama 10 tahun penjara.

Kemudian, Pasal 35 juncto Pasal 51 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, dengan ancaman 12 tahun penjara.Terakhir, Pasal 263 KUHP tentang Tindak Pidana Pemalsuan Surat. Dengan ancaman maksimal enam tahun penjara. (Okta).
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Polisi Tangkap Pelaku Pemalsuan Hasil Tes Swab-PCR

Terkini

Topik Populer

Iklan